Pangandaran, Duka dan Kepalsuan
![]() |
| Salah satu foto hoax banjir Pangandaran./regional.liputan6.com |
Banjir
di Pangandaran menyisakan duka dan kepalsuan. Beredarnya foto-
foto hoax pada bencana yang
merupakan bencana tahunan ini disesalkan banyak pihak. Musibah tahunan ini biasa terjadi di wilayah Pangandaran memasuki
musim penghujan. Beberapa desa diantaranya Kecamatan Kalipucang, Pangandaran,
Parigi, Cijulang, Sidamulih, dan Cilutung setiap tahunnya masuk ke dalam titik
rawan banjir dan longsor.
Musibah
banjir dan longsor yang terjadi ini diwarnai oleh beredarnya foto-
foto hoax (bohong) yang viral di media sosial. Foto-foto ini menggambarkan
betapa mencekamnya bencana ini seolah-olah Kabupaten Pangandaran dalam keadaan
lumpuh total akibat musibah itu. Miris, foto- foto palsu ini menjadikan
kesedihan Pangandaran sebagai kekuatan untuk memenangkan popularitas.
Hal
ini juga sangat disayangkan karena sebagai daerah pariwisata Pangandaran butuh
penggambaran yang aman dan nyaman. Kenyataannya pun musibah ini tidak
mempengaruhi jalur pariwisata terutama di Pantai Pangandaran.
![]() |
| Longsor akibat banjir di Pangandaran./nasional.republika.co.id |
Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menghimpun, kondisi ini
mengakibatkan 120 rumah di Kecamatan Sidamulih terendam banjir dan akses Jalan
Parigi-Kalijati terganggu.
Selain
itu, musibah ini juga menghancurkan salah satu rumah warga yang mengakibatkan
empat orang tewas tertimbun longsor. Longsor menimpa rumah Rasman (40) pada
dini hari yang menyebabkan ia harus kehilangan istri bernama Yuyun (35), dua
orang anaknya Aldi (6) dan Andika (8 bulan) serta ibunya Arsih (60). Sementara
anak lainnya Ari (14) dan Anida (8 bulan) mengalami luka ringan.
Rasman
sementara harus tinggal di rumah kakaknya yang hanya berjarak sekitar 50 meter
saja dari lokasi longsor.
Setahun
sebelumnya, musibah banjir dan longsor di Pangandaran juga memakan korban bernama
Ikbal (7) asal Ciparakan, Kecamatan Kalipucang yang meninggal akibat tertimpa
reruntuhan rumah yang ambruk karena material longsor serta Barjo (53) asal
Jadikarya, Kecamatan Langkaplancar.
Bencana
tahunan ini seharusnya tidak dibiarkan menjadi hal yang rutin terjadi di
Kabupaten Pangandaran. Musim penghujan sudah pasti akan datang setiap tahunnya
dan tidak bisa dicegah. Relokasi bisa menjadi salah satu solusi, karena setiap
tahunnya titik-titik rawan longsor selalu sama.
Longsor
yang biasa terjadi ternyata disebabkan oleh musim kemarau yang membuat tanah
mengalami keretakan sehingga mudah terisi aliran air di permukaan saat hujan. Penghijauan
dan penanaman kembali pun dapat dilakukan untuk mengikat jaringan tanah agar
tanah tidak mudah terkikis oleh air pada saat datangnya musim penghujan.
Dengan ini, diharapkan dampak dari
bahaya bencana alam dapat diminimalisir agar tidak lagi memakan korban jiwa.


Semoga pemerintah daerah pangandaran lebih mengalokasikan apbd nya untuk menanggulangi bencana tsb, dan warga setempat diberikan sosialisasi tanggap bencana agar jumlah korban dapat diminalisir, serta nitizen agar bijak menggunakan medsos dan tidak mengunggah foto hoax
ReplyDeleteNah, jadi pr nih buat pemerintahannya 👍 dan kalian jangan gampang tertipu ya sama berita ataupun foto-foto hoax.
Deletenah benar juga tuh makanya kita harus menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan agar terhindar dari bencana ����������
ReplyDeleteSip hindari juga membangun rumah di daerah rawan longsor dan tidak terdapat daerah aliran sungai.
DeleteBermanfaat sekali tulisannya 👍
ReplyDeleteTerima kasih semoga membantu 😊
DeleteSemoga berkurangnya bencana2 spt itu dan semakin bnyk warga menyadari pentingnya reboisasi
ReplyDeleteAamiin, betul ka ayo sama sama jaga lingkungan kita.
DeletePemerintah daerah harusnya cepat tanggap ya dalam menangani kasus ini karena sudah terjadi di tahun sebelumnya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.
ReplyDeleteIya bencana ini jadi dianggap biasa karena sudah rutin terjadi 😥
DeletePemerintah daerah harusnya cepat tanggap ya dalam menangani kasus ini karena sudah terjadi di tahun sebelumnya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.
ReplyDeleteIya bencana ini jadi dianggap biasa karena sudah rutin terjadi 😥
DeleteWow, keren artikelnya kak, bagus bgt buat di share. Ditunggu postingan berikutnya! Good job
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung ke blog saya :)
DeleteTerus berkarya ka Indah..
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir :)
DeleteKebiasaan netijen jaman now, nyebar berita tanpa tau sumbernya, keknya kalo banjirnya udh tiap tahun ga mungkin pemerintah diem aja deh, pasti udh di tanggulangi, tapi ya namanya bencana alam, gada yg tau sekuat apa dia dtg... hiks. Semoga tidak terulang di tahun depan!
ReplyDeleteMakanya kita perlu cerdas dalam memilah dan memilih berita ya kak, juga jangan sampai bencana seperti ini menjadi "biasa" karena tentu dampak dari musibah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
DeleteKampung halamannya omat nih, hampir setiap tahun warga DgF Raster ada yg kesana, Alhamdulillah ga ada bencana apapun... Semoga Pangandaran terus menjadi daerah wisata yg ramah terhadap pengunjung nya....
ReplyDeleteAamiin alhamdulillah kalo gitu mah biar bisa main-main terus juga ke Pangandaran :)
DeleteTurut berduka untuk para korban😢
ReplyDeleteIya semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan o:)
DeleteNice info 👍
ReplyDeleteTerima kasih sudah berkunjung :)
DeleteTerus gimana tuh cara membedakan mana yang hoax dan yang bukan?
ReplyDelete