Pangandaran, Duka dan Kepalsuan

        
Salah satu foto hoax banjir Pangandaran./regional.liputan6.com


        Banjir di Pangandaran menyisakan duka dan kepalsuan. Beredarnya foto- foto hoax pada bencana yang merupakan bencana tahunan ini disesalkan banyak pihak. Musibah tahunan ini biasa terjadi di wilayah Pangandaran memasuki musim penghujan. Beberapa desa diantaranya Kecamatan Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Cijulang, Sidamulih, dan Cilutung setiap tahunnya masuk ke dalam titik rawan banjir dan longsor.

Musibah banjir dan longsor yang terjadi ini diwarnai oleh beredarnya foto- foto hoax (bohong) yang viral di media sosial. Foto-foto ini menggambarkan betapa mencekamnya bencana ini seolah-olah Kabupaten Pangandaran dalam keadaan lumpuh total akibat musibah itu. Miris, foto- foto palsu ini menjadikan kesedihan Pangandaran sebagai kekuatan untuk memenangkan popularitas.

Hal ini juga sangat disayangkan karena sebagai daerah pariwisata Pangandaran butuh penggambaran yang aman dan nyaman. Kenyataannya pun musibah ini tidak mempengaruhi jalur pariwisata terutama di Pantai Pangandaran.

Berita yang viral di media sosial juga seakan memberi opini bahwa Pemkab Pangandaran tidak tanggap terhadap bencana. Padahal seperti yang dilansir oleh tempo.co, tim SAR langsung bergerak menangani bencana. Evakuasi pun terus dilakukan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Pangandaran (DPKPB) bersama dengan TNI, Polri, Basarnas, BPBD Provinsi Jawa Barat, SKPD, relawan, dan masyarakat.


Longsor akibat banjir di Pangandaran./nasional.republika.co.id


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menghimpun, kondisi ini mengakibatkan 120 rumah di Kecamatan Sidamulih terendam banjir dan akses Jalan Parigi-Kalijati terganggu.

Selain itu, musibah ini juga menghancurkan salah satu rumah warga yang mengakibatkan empat orang tewas tertimbun longsor. Longsor menimpa rumah Rasman (40) pada dini hari yang menyebabkan ia harus kehilangan istri bernama Yuyun (35), dua orang anaknya Aldi (6) dan Andika (8 bulan) serta ibunya Arsih (60). Sementara anak lainnya Ari (14) dan Anida (8 bulan) mengalami luka ringan.

Rasman sementara harus tinggal di rumah kakaknya yang hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari lokasi longsor.

Setahun sebelumnya, musibah banjir dan longsor di Pangandaran juga memakan korban bernama Ikbal (7) asal Ciparakan, Kecamatan Kalipucang yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan rumah yang ambruk karena material longsor serta Barjo (53) asal Jadikarya, Kecamatan Langkaplancar.

Bencana tahunan ini seharusnya tidak dibiarkan menjadi hal yang rutin terjadi di Kabupaten Pangandaran. Musim penghujan sudah pasti akan datang setiap tahunnya dan tidak bisa dicegah. Relokasi bisa menjadi salah satu solusi, karena setiap tahunnya titik-titik rawan longsor selalu sama.

Longsor yang biasa terjadi ternyata disebabkan oleh musim kemarau yang membuat tanah mengalami keretakan sehingga mudah terisi aliran air di permukaan saat hujan. Penghijauan dan penanaman kembali pun dapat dilakukan untuk mengikat jaringan tanah agar tanah tidak mudah terkikis oleh air pada saat datangnya musim penghujan.


Dengan ini, diharapkan dampak dari bahaya bencana alam dapat diminimalisir agar tidak lagi memakan korban jiwa. 

Comments

  1. Semoga pemerintah daerah pangandaran lebih mengalokasikan apbd nya untuk menanggulangi bencana tsb, dan warga setempat diberikan sosialisasi tanggap bencana agar jumlah korban dapat diminalisir, serta nitizen agar bijak menggunakan medsos dan tidak mengunggah foto hoax

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, jadi pr nih buat pemerintahannya 👍 dan kalian jangan gampang tertipu ya sama berita ataupun foto-foto hoax.

      Delete
  2. nah benar juga tuh makanya kita harus menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan agar terhindar dari bencana ����������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip hindari juga membangun rumah di daerah rawan longsor dan tidak terdapat daerah aliran sungai.

      Delete
  3. Bermanfaat sekali tulisannya 👍

    ReplyDelete
  4. Semoga berkurangnya bencana2 spt itu dan semakin bnyk warga menyadari pentingnya reboisasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, betul ka ayo sama sama jaga lingkungan kita.

      Delete
  5. Pemerintah daerah harusnya cepat tanggap ya dalam menangani kasus ini karena sudah terjadi di tahun sebelumnya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bencana ini jadi dianggap biasa karena sudah rutin terjadi 😥

      Delete
  6. Pemerintah daerah harusnya cepat tanggap ya dalam menangani kasus ini karena sudah terjadi di tahun sebelumnya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bencana ini jadi dianggap biasa karena sudah rutin terjadi 😥

      Delete
  7. Wow, keren artikelnya kak, bagus bgt buat di share. Ditunggu postingan berikutnya! Good job

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih telah berkunjung ke blog saya :)

      Delete
  8. Kebiasaan netijen jaman now, nyebar berita tanpa tau sumbernya, keknya kalo banjirnya udh tiap tahun ga mungkin pemerintah diem aja deh, pasti udh di tanggulangi, tapi ya namanya bencana alam, gada yg tau sekuat apa dia dtg... hiks. Semoga tidak terulang di tahun depan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kita perlu cerdas dalam memilah dan memilih berita ya kak, juga jangan sampai bencana seperti ini menjadi "biasa" karena tentu dampak dari musibah ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

      Delete
  9. Kampung halamannya omat nih, hampir setiap tahun warga DgF Raster ada yg kesana, Alhamdulillah ga ada bencana apapun... Semoga Pangandaran terus menjadi daerah wisata yg ramah terhadap pengunjung nya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin alhamdulillah kalo gitu mah biar bisa main-main terus juga ke Pangandaran :)

      Delete
  10. Turut berduka untuk para korban😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan o:)

      Delete
  11. Terus gimana tuh cara membedakan mana yang hoax dan yang bukan?

    ReplyDelete

Post a Comment