Catch Me, Catch You

I love you when you catch me looking at you

      Ini foto pertama yang kuambil sejak aku melihatnya pertama kali di bangku SMA. Keberadaannya membuatku mau tak mau mengalihkan pandanganku pada sosok dirinya yang telah mencuri pandanganku hanya kepada dirinya saat kali pertama. Sejak berjumpa tak sekalipun aku mampu melewati keberadaannya. Baik saat dekat maupun jauh. Baik saat kita belum mengenal hingga aku mengenalnya lebih jauh. Aku perjelas disini, hanya aku yang mengenalnya lebih jauh. Tidak dengannya. Sebutlah aku sebagai tuan mata-mata. 
            Asal kamu tahu, aku hafal semua yang ada pada dirinya. Dia selalu datang 5 menit sebelum bel sekolah berbunyi, padahal jarak dari rumahnya ke sekolah bisa ditempuh hanya dengan 15 menit perjalanan. Tapi ia lebih suka membuat dirinya sibuk bahkan diawal pagi yang cerah secerah aku melihat manik mata onyx-nya yang terlihat berkilau dimataku. Dia juga selalu memakai tas gendong biru muda di hari senin sampai kamis dan tas selempang putih susu di hari jum’at. Bahkan aku hafal diluar kepala accessories apa saja yang sering dipakainya, seperti jepit pita biru yang selalu setia bertengger manis di rambut hitam panjangnya yang indah. 
             Aku ingat, dia pernah bilang kepadaku.

“Biru itu warna yang indah. Bagiku, biru itu melambangkan kedamaian dan ketenangan. Biru itu melambangkan sosok yang bijak, tenang dan apa adanya. Makanya aku suka Biru.”
         Mencintainya itu bagaikan keindahan. Tapi, berharap dicintainya bagai pungguk merindukan bulan.

“Sampe kapan sih bro. Lo bertahan cuma dengan ngeliat dia dari jauh doang?” ucap Matthew, sahabatku.

“Sampe dia sadar kalo gue bukan cuma merhatiin dia, tapi juga mencintainya sama seperti gua mencintai diri gua sendiri.”

“Lo nya gak beraksi gimana mau ada reaksi.”

“Gue…… takut Mat.”

“Hahaha The Most Wanted girl-nya SMA Tanzania takut ngedeketin cewek?! Helloooooo~ Apa kata dunia? Apa kata fans-fans lo beserta secret admirer dan semacamnya itu boy?!”

“Justru itu, karena dia…… beda.”

“Haha ngakak njir. Gue bilangin ya sama lo mencintai dalam diam itu sama aja kaya lo pengen kentut tapi ditahan. Apa yang bakal terjadi?”

“Sakitlah. Masuk rumah sakit gue -_-“

“Nah! Pasti sama juga kaya lo sekarang. Cewek kaya gitu gaboleh ditahan lama-lama keburu diambil orang. Lo gak mau kan terlambat? Lo gak mau kan menyesal? Lakukan sekarang sebelum semuanya bikin lo sakit. Inget pesen gue, bro.”

Lakukan sekarang sebelum semuanya bikin lo sakit.



I love it when I catch you looking at me

           Memahami perasaan seseorang tidak semudah kamu membalikkan telapak tangan. Memahami perasaan seseorang itu seperti mengajari anak kecil yang baru belajar jalan. Semuanya akan sulit diawal tapi aku percaya semua akan indah pada waktunya. Karena tidak ada hal yang instan didunia ini. Bahkan, mie instan aja harus dimasak dulu. Intinya, semua itu butuh proses. 
          Butuh proses yang panjang juga buat aku mengartikan semua perasaan yang bergemuruh di hati ini. Yang meronta-ronta minta dilepaskan. Aku takut menyalahartikan semua perasaan yang terjadi diantara kamu dan aku. Aku sering melihatmu memperhatikanku. Aku gembira saat tahu bahwa ternyata kamu tahu ada aku disini. Aku senang ketika kamu meminta pendapatku tentang hal yang kusukai. Aku… Kamu istimewa dimataku. Meski aku bukan siapa-siapa. Meski aku bukan apa-apa.

catchmeyou

             Asal kamu tahu. 1080 hari yang lalu. Saat kamu dihukum di hari pertama kita masuk sebagai murid baru. Saat kamu menjadi pusat perhatianku pada saat itu. Saat kamu menjadi idola bagi para kaum hawa disekolah. Saat itu juga kuurungkan niatkuuntuk mengucapkan satu kata sesederhana “hai”. Bahkan kata yang dengan mudahnya kukeluarkan bagi banyak orang begitu sulit jika kulakukan didepanmu. Aku hanya bisa mematung. Bagai boneka tak bernyawa. Bagai benda tak beraga. Bagai api menyala dalam air. Tapi, aku cukup bahagia saat mengetahui kamu mencuri pandang padaku saat itu. Meski aku tak tahu pasti apakah aku yang jadi pusat perhatianmu kala matamu tertuju kearah dimana aku berada. 
          Dan jika kamu tahu? Saat paling bahagia selama 3 tahun di SMA ini adalah saat dimana kita pertama kali mengobrol. Saat itu, kukira ada secercah harapan bagiku untuk kamu merasakan apa yang juga kurasakan. Tapi sejak hari itu, kamu gak pernah lagi ajak aku ngobrol. Saat ketemu aku pun kamu gak pernah sekalipun melirikku. Kamu tahu? Aku kecewa. Aku terlalu banyak berharap. Maaf.
        Kini, setiap pagi aku hanya bisa melihatmu turun dari mobil mewah milikmu (baca:orang tuamu) dengan memakai tas gendong berwarna hitam dengan retsleting biru muda. Gak pernah sekalipun aku lihat kamu memakai yang lain. Aku juga tahu, setiap hari tanganmu tak pernah absen dari jam tangan adidas hitam milikmu dengan kombinasi warna biru dan jingga di jarum jamnya. Lihat ini? Bahkan aku memerhatikanmu sampai ke detail yang terkecil. Tak bisakah kamu melakukan itu juga untukku? Oh sudahlah, Jingga, jangan berharap lebih.

“Hoi! Melamun aja ngga.” Hehehe. Yang ditanyai hanya nyengir kuda mendengar pertanyaan Nagita.

“Mikirin…. Biru? Udahlah ngga. Fokus sama ujian dulu deh sekarang.”

“Tapi Biru selalu masuk dalam baying-bayang gue Ta.”

“Mending lu pikirin si Raffa. Udah 3 tahun cintanya digantungin sama lu.”

“Ah tau ah.”jawabnya sambil melenggang pergi.

“Eh! Mau kemaanaaa? Ikuuuuuuuut.”


         Jika ada yang bisa Jingga ubah saat ini. Ia hanya ingin satu, putar waktu dan biarkan ia mengulang masa SMA-nya bersama Biru. Biarkan ia menumpahkan segala isi hatinya pada sosok tenang nan tampan yang satu itu. Karena hari ini adalah hari keberangkatan Jingga. Jingga sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Mungkin dengan cara ini perlahan ia dapat menghapus ingatannya tentang sosok Biru. Mungkin ia bisa memulai hidup barunya bersama yang 'lain'. Tapi dihari terakhirnya di Indonesia tentu saja dia tidak akan membiarkan perasaannya tertahan lebih dalam lagi. Ia sudah memuncahkan semuanya dalam surat yang ia bungkus dengan amplop berwarna Jingga yang ia titipkan kemarin lewat Nagita.


"Taa, gue berangkat yaa. Jangan lupain gue ya taa. Gue hiks gue sayang banget sama hiks sama lo. Lo sahabat hiks sahabat terbaik gue ta." isakku.

"Gue juga sayang banget ngga sama lo. Lo kenapa hiks ha hiks ha-harus kuliah jauh-jauh sih. Di Jakarta kan hiks juga banyak yang bagus."

"Gak bisa Ta. Keputusan gue udah bulat. Gue pergi ya, Ta."


         Pelukan terakhir dari keduanya semakin mengerat dan membuat tangis mereka memecah saat itu juga. Speaker terus mengumumkan keberangkatan pesawat yang akan membawa Jingga menuju tempat lain diseberang sana. Hidup itu pilihan. Kadang kamu harus memilih meninggalkan atau ditinggalkan. Relakan apa yang menjadi jalanmu. Tuhan punya rencana yang lebih indah dari apa yang telah kita rencanakan. 
          Setiap orang punya cerita sendiri dalam menemukan cinta. Mungkin ini memang jalan takdirku saat ini. Menyayangi tanpa pernah tahu rasanya disayangi. Tapi aku tahu, kita, aku dan Biru masih dibawah langit yang sama. Jadi, selama aku masih bisa melihat indahnya langit aku masih merasa bahwa Biru masih disisiku. Aku masih bersamanya. Walau ditempat yang berbeda. Walau terpisah jarak dan waktu.


"JINGGAAAAAAAAAAAA!!!!!!!"

    I love you, ucap anak laki-laki itu lirih diiringi tatapan sedih dengan tangan kanannya menggenggam kertas usang yang dibungkus amplop Jingga sambil melihat benda bersayap yang telah membawa gadisnya pergi.


Cintaku adalah perasaan tanpa syarat yang akan dengan tulus aku berikan untukmu. Hanya untukmu seumur hidupku.-Biru

Comments